Selasa, 18 September 2012

Saat-Saat Teduh

Kepercayaan itu sangat mahal harganya, untuk itu pelihara dan rawatlah kepercayaan tersebut, sehingga mampu memberikan manfaat yang berlimpah.

Kalau mengalami kesusahaan, kedukaan maupun kesedihan, janganlah cepat mengeluh. Jadikanlah kesusahan, kedukaan maupun kesedihan tersebut sebagai jalan untuk meraih kesenangan, keberkahan maupun   keberuntungan.

Kalau kamu dirundung kesedihan, ijinkan saya untuk meringankannya. Jika bahu ini mampu meringankan bebanmu, sandarkanlah sepuasmu. Aku relakan bahu ini untuk membantu meringankan bebanmu.  

Kalau kamu tidak sanggup menopang bebanmu, masuklah ke dalam kamar. Heningkan sejenak pikiranmu dan berdoalah. Pasrahkanlah segala bebanmu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang akan menghapus seluruh beban dan masalahmu.

Sabtu, 15 September 2012

Berdoa dan Bersyukur


Ketika  matahari pagi mulai menyinari alam semesta, maka hanya lantunan syair syukur yang patut kita lambungkan kepada Tuhan, sebagai pemilik alam semesta ini. Karena jantung kita belum berhenti berdetak dan nafas masih jernih berhembus.

Doa yang kita panjatkan sebelum memulai aktifitas di pagi hari, bukan hanya sekedar meminta dan bersyukur kepada Tuhan, tetapi bagaimana membangun relasi secara intim dan personal dengan Tuhan. 

Sering kita mendikte Tuhan untuk meminta sesuatu, namun sering pula kita lalai dalam usaha untuk mewujudkan permintaan tersebut. Karena pada hakekatnya, doa dan permintaan kita kepada Tuhan tidak akan pernah terwujud jika kita tidak mengusahakannya.

Siang dan malam kita berdoa, saat suka maupun duka. Namun, kadang disaat duka kita rajin berdoa, namun disaat suka, kita sering  lupa untuk membangun kembali relasi dengan Tuhan.

Disaat duka, kita sering mengeluh dan merengek kepada Tuhan dan bahkan kadang kita menghakimi Tuhan bahwa Tuhan melupakan kita, ataupun menghujatnya bahwa Tuhan meninggalkan kita. Namun hakekatnya, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, anakNya, justru kita yang sering meninggalkan Tuhan. Disaat kita duka,Tuhan selalu menggedong kita dalam rahmat dan kasihNya,  



Sabtu, 09 Juni 2012

MENGAPA HARUS ASURANSI


Pada  ulasan terdahulu  muncul pertanyaan adakah jalan untuk meraih impian atau cita-cita kita? Dan jawabannya adalah dengan ASURANSI. Pertanyaan lanjutannya adalah mengapa harus dengan ASURANSI?

Cita-cita atau impian merupakan kebutuhan yang PASTI akan terwujud namun kadang kita tidak memiliki jalan untuk meraihnya. ASURANSI adalah  salah satu jalan yang dapat kita tempuh.
Ada beberapa alasan mengapa kita memiliki asuransi:
1. Kecelakaan, sakit kritis bahkan sampai meninggal dunia, adalah fakta hidup yang PASTI AKAN TERJADI, namun waktu kejadiannya tidak dapat kita rencanakan. Tidak dapat kita membayangkan, misalnya selama bertahun-tahun setiap hari kita bekerja sekuat tenaga untuk biaya hidup sekeluarga, tiba-tiba hilang dalam hitungan hari disaat dokter menvonis kita sakit kritis dan harus dioperasi. Tabungan yang telah kita simpan bertahun-tahun di bank, harus kita cairkan utntuk biaya rumah sakit. Dengan memilki ASURANSI, biaya rumah sakit dapat di"cover". Akhirnya salah satu masalah dapat diselesaikan.
2.  Setelah sembuh dari rumah sakit, belum tentu dapat bekerja kembali. Biasanya setelah menderita sakit kritis,  produktifitas dan kinerja  menjadi menurun atau bahkan hilang. Maka penghasilan untuk membiayai hidup menjadi hilang pula. Maka cita-cita ataupun impian yang pernah direncanakan sebelumnya pasti sangat sulit diraih ataupun tidak akan pernah diraih sama sekali. Dengan memiliki ASURANSI,permasalahan yang kedua ini akan dapat diatasi.
3. Disaat kita memilki uang lebih (bukan untuk biaya hidup sehari-hari) mungkin kita bingung mau menyimpan dan mengembangkannya. Bank adalah salah satu tempat yang paling sering dipilih  untuk menyimpan uang hasil jerih payah tersebut. Dengan prosentasi bunga bank yang tidak terlalu besar,  perkembangan jumlah tabungan ataupun deposito kitapun tidak besar pula. Dengan memiliki ASURANSI, selain keuntungan untuk mengatasi masalah biaya rumah sakit, juga yang tidak kalah menariknya adalah premi yang dibayarkan secara rutin akan diINVESTASIkan. Dengan ASURANSI, perkembangan investasi kita dapat diprediksi, kira-kira berapa keuntungan yang diperoleh dalam jangka waktu sepuluh tahun kemudian misalnya.   

Alasan-alasan di atas hanyalah ulasan sederhana namun sangat besar manfaatnya bagi yang menyadari pentingnya  ASURASNI. Jika kita menghargai hidup ataupun jika ingin hidup lebih tenang, maka memilki ASURANSI merupakan pilihan yang cerdas dan sehat. Walaupun kita memiliki deposito berjumlah Rp.300.000.000 misalnya, dalam sekejap angka tersebut akan hilang di saat sakit kritis mampir dalam hidup kita.

Jika anda merasa  ASURANSI adalah kebutuhan yang UTAMA dan PERTAMA, maka saya akan membantu mengatasinya. Mari mulai memiliki ASURASNI dari sekarang......berlanjut ( akan saya ulas secara sederhana bagaimana tips menolak agen asurasni)

Sabtu, 02 Juni 2012

ANTARA IMPIAN DAN JALAN UNTUK MERAIHNYA.

Ketika kita menginginkan sesuatu, entah itu harta /barang atau jabatan atau status (yang sering kita sebut sebagai cita-cita atau impian) pasti banyak jalan untuk meraihnya. Kita ingin suatu saat dapat menduduki jabatan yang tertinggi di tempat kita bekerja. Kita juga punya cita-cita, agar dalam usia sekian, saya harus memiliki rumah atau mobil atau yang lainnya. 

Pada saat kita membuat resolusi ditahun baru misalnya, menghendaki agar nanti anak yang sangat kita sayangi dapat kuliah di universitas yang terbaik. Juga menginginkan agar jika suatu saat mengalami sakit yang kritis, tidak lagi dibebani oleh biaya  Rumah Sakit (RS) dan sebagainya.

Keinginan, cita-cita atau impian seperti tersebut di atas, adalah fakta yang pasti dialami oleh siapapun. Pekerjaan ( jabatan ), Rumah ( aset ), Anak   (keluarga) dan Sakit, adalah problem hidup yang pasti muncul, walaupun kadang waktu dan saatnya tidak bisa kita duga. 

Bagi yang dapat mengantisipasi problem-problem tersebut, dapat dengan 'happy" menjalani hidupnya. Namun banyak juga yang justru belum mengetahui atau tidak memahami  bagaimana mengatasi problem-problem tersebut. Apakah ada jalan keluar untuk dapat mengatasi problem-problem tersebut. Adakah pintu yang dapat dilalui untuk memecahkan berbagai persoalan-persoalan tersebut?  

Saya katakan ADA. Jika kita mau, maka jalan keluar itu terbuka lebar. Kesehatan kita dapat diproteksi, sekaligus investasi kita dijamin dapat memberi keuntungan untuk menggapai impian ataupun cita-cita yang pernah kita dambakan. 

ASURASNI, salah satu jawaban dari semua persoalan di atas......Berlanjut 085213998111/02160319400

Minggu, 18 Desember 2011

KETIKA NEGARA DIKUASAI OLEH PARA BANDIT

Konflik rakyat dengan aparat keamanan, yang berakibat jatuhnya korban di Mesuji, Propinsi Lampung ataupun di Sumatera Selatan, sebenarnya bukanlah yang pertama dalam rentetan kasus-kasus di mana negara membiarkan rakyatnya menderita. Konflik yang melibatkan rakyat dengan aparat keamanan ini, seakan mensahkan negara tidak peduli dengan rakyatnya. Rakyat selalu mempertahankan hak dan miliknya, sementara aparat keamanan biasanya menjadai centeng pengusaha, menjaga properti-properti pengusaha.

Peristiwa Mesuji hanyalah salah satu fakta yang terus menggerogoti rakyat selama ini, bagaimana negara tidak berdaya melindungi rakyatnya dari penderitaan. Negara sangat rapuh jika berhadapan dengan bandit-bandit pecundang yang selalu membuat rakyat menderita.

Konflik Mesuji sebenarnya hampir sama akibatnya dengan kasus Korupsi yang tidak pernah punah selama ini. Kosupsi seperti penyakit kanker yang sangat menakutkan . Selalu menggerogoti kesejahteraan rakyat secara perlahan, namun akibatnya secara terang benderang membuat rakyat semakin miskin. Dan sekali lagi, negara seakan setengah hati membasmi para bandit-bandit koruptor ini.

Dikala sang koruptor adalah temen,kroni,konco penguasa maka koruptor tersebut tidak akan tersentuh hukum. Pemberian kemudahaan fasilitas kepada koruptorpun, membuat bandit-bandit koruptor ini tidak pernah jerah menggerogoti uang negara. Dan lagi-lagi rakyat yang akan menderita.

Mugkin ingatan kita belum lekang benar dengan kasus Kedung Ombo pada era Orde Baru. Rakyat dicaplok tanahnya untuk membuat waduk Kedung Ombo. Rakyat yang menolak dianggap PKI, sebuah partai yang berjaya saat Orde Lama namun sangat menakutkan pada saat Orde Baru. Rakyat yang dicap PKI seperti pasien penyakit kusta yang selalu djauhkan oleh masyarakat sekitarnya. Orde Baru dengan gagahnya mengusung tema pembangunan, namun rakyat justru yang dikorbankan. Sebuah kontradiktif logika para penguasa yang otoriter.

Kasus Lumpur Lapindo juga hampir sama akibatnya, rakyat yang selalu jadi korban. Pada kasus Lumpur Lapindo, sepertinya negara sangat tidak berdaya menghadapi ketamakan pengusaha. Negara dalam hal ini pemerintah begitu rikuh menghadapi pengusaha yang melakukan aktifitas di Lapindo, sampai-sampai bingng bagaimana mengahadapi rakyat. Rakyat seakan tidak memiliki hak hidup di rumahnya sendiri. Rakyat menjadi sebuah komunitas yang hidup tanpa arah,tanpa tujuan dan tanpa pemimpin.

Kasus-kasus di atas menjadi contoh bagaimana negara hilang dan lenyap dikala rakyatnya terjepit dan menderita. Negara seakan hadir dikala negara membutuhkan rakyat, namun lenyap dikala rakyat mengharapkan kehadiran negara. Mungkin situasi negara seperti ini menjadi sebuah realita dikala negara dikuasai oleh para bandit dan pecundang.

Kamis, 05 Mei 2011

KEGALAUAN AKAN KE-INDONESIA-AN


Ketika ke-Indonesia-an itu kembali digoyang. Saban hari peristiwa-peristiwa yang mengusik kebersamaan atau ke-bhineka-an kita sebagai bangsa, hadir tiada henti. Mulai dari peristiwa melarang mendirikan rumah ibadat, melarang mengadakan ibadat, menyebarkan kebencian dengan dalil agama, aksi teror yang bermotifkan agama dan yang teraktual yakni kasus NII (Negara Islam Indonesia). Hampir semuanya bermuara pada satu sumbu, yaitu AGAMA.

Pertanyaannya, apakah AGAMA adalah sumber kedamaian atau justru pemicu konflik bagi umat manusia? Apakah para pemi pin agama ada? ataukah yang ada hanyalah pengkotbah agama? Apakah pemimpin agama telah benar menebarkan ajarannya bagi keselamatan umat manusia? ENTALAH.

Mendengar kata-kata Negara Islam Indonesia, bulu kuduk saya langsung merinding. Khayalan nakal saya mulai mengawang-awang, apa jadinya Indonesai kedepan, jika apa yang sekarang diinginkan oleh sekelompok orang akan menjadi kenyataan? Seperti apakah Indonesia lima tahun lagi?

Pertanyaan - pertanyaan tersebut beruntun mampir dalam alam sadar saya, dengan melihat realita yang ada akhir-kahir ini. Dalam kasus NII misalnya, pemerintah sepertinya melihat NII bukan merupakan masalah serius bagi bangsa ini. Jika dibandingkan gerakan-gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) misalnya ataupun gerakan-gerakan separatis yang lainnya?, pemerintah begitu agresif membasminya. Sangat jelas disini, pemerintah menjadi tidak adil dalam menghadapi setiap aktifitas sesama anak bangsa.

Menilik keberadaan NII, bahayanya jauh lebih besar bagi keutuhan bangsa ini jika dibandingkan dengan gerakan separatis yang jelas dan nyata, seperti OPM. NII dengan metode yang sangat rapi, tanpa kekerasan, menyusup hampir disetiap elemen bangsa, ternyata bukan merupakan sebuah gerakan yang serius bagi Pemerintah.Pertanyaannya adalah; apakah pemimpin sekarang masih ada? ataukah yang ada hanyalah penguasa?

Merajut ke-Indonesia-an dalam keberagaman nampaknya masih merupakan kerja besar dan melalui jalan yang berkelok-kelok. Salah rajutan akan membuat bangsa ini hancur berantakan. Eratkan harapan, walaupun sang pemimpin masih jauh dibelakang sana. Indonesai tidak membutuhkan penguasa tetapi pemimpin. Mari, jadilah pemipimn bagi diri sendiri menuju Indonesia satu melalui PANCASILA.

Jumat, 31 Desember 2010

TAHUN YANG PENUH KENANGAN

Tahun 2010 menyimpan banyak kenangan bagi perjalanan hidap saya selama ini. Suka duka, kebahagian dan sedih, telah menorehkan bekas yang begitu mendalam, bukan hanya susah dan tidak mungkin untuk dilupakan, tetapi telah ikut membentuk lekak lekuk warna hidup saya pada tahun-tahun yang akan datang.

Ditahun 2010, tepatnya 23 Agustus 2010, ayah saya yang tercinta, Bapa Agus Anton, pergi meninggalkan kami sekeluarga, untuk selama-lamanya. Tanpa tanda-tanda dan sakit yang mengkwatirkan, Bapa yang tercinta menghadap Sang Pencipta. Begitu cepat ajalNya datang.

Perasaan sedih, terpukul, galau, terguncang berkecamuk dalam hati saya. Tidak ada alasan yang tepat bagi saya pada saat-saat yang sangat mengguncangkan itu, untuk secara wajar menerima kenyataan ini. Namun dengan dukungan doa dan perhatian yang begitu besar dari keluarga besar dan teman-teman, perlahan-lahan, realitas itu mulai dapat diterima. Walaupun sebenarnya, saya masih memiliki utang kepada Bapa yang tercinta, karena tinggal beberapa bulan lagi, saya akan menikah.

Bapa yang sangat kami sayangi, ternyata tidak dapat mengikuti hari kebahagiaan saya. Tidak dapat merasakan kebahagiaan disaat saya, anak sulungnya akan menikah. Namun saya percaya, Tuhan memiliki rencana yang terindah bagi saya, istri saya, ibu saya (Vero Hadiah), adik-adik saya dan bagi Bapa sendiri.Bahwa kematian bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari kehidpan kekal bersama Tuhan di surga. Selamat jalan Bapa Agus Anton, doa kami menyertaimu. Jangan lupa Bapa juga berdoa buat kami semua yang ditinggalkan.

Tepatnya tanggal 13 November 2010, saya dan istri saya tercinta, Maria Pujiastuti mengikrarkan janji pernikahan di Gereja Matius, Ciledug, Bintaro, Jakarta. Dihadapan Allah, dengan disaksikan oleh Pastor Petrus, orang tua, adik-adik, saudara dan kenalan, saya mulai memasuki babak baru dalam kehidupan saya. Saya secara resmi menikah menurut ajaran Gereja Katolik, menjadi seorang suami.

Walaupun dengan perasaan yang sangat sedih, karena Bapa Agus Anton sudah tidak ada, namun perasaan haru dan bahagia juga meliputi hati saya. Saya mulai menapaki perjalana hidup berumah tangga. Panggilan untuk hidup berkeluarga mulai saya jalani bersama dengan istri saya yang tercinta, Maria Pujiastuti. Tuhan telah menghadirkan Maria Pujiastuti sebagai istri saya. Terima kasih Tuhan.

2011 mulai datang. Lembaran baru dalam kehidupan sayapun mulai ditebarkan. Mudah-mudahan pengalaman dan kenangan ditahun 2010 menjadi spirit bagi saya untuk m

engarungi tahun 2011. Terima kasih yang tidak terhingga kepada Tuhan, atas anugrah dan berkat yang telah dilimpahkan selama ini. Buat Almarhum Bapa Agus Anton, terima kasih yang tak terhingga,semoga Bapa bahagia di surga bersama Tuhan Yesus. Untuk Ibu Vero Hadiah yang tersayang, dari lubuk hati yang terdalam, kuucapkan terima kasih. Selama 9 bulan saya dikandung, dilahirkan, disusui dan di sayangi sampai sekarang dan seterusnya, menjadi roh bagi saya untuk selalu sayang dan bersujud kepadaMu.

Buat istriku Maria Pujiastuti yang tercinta, terimalah kasih dan cintaku selamanya. Terima kasih saya lantunkan, karena bersedia menjadi istri saya. Buat Keluarga Bapa Soejono, Bapa Mama mertuaku yang terkasih, terima kasih banyak, karena telah menerima saya menjadi salah satu anggota keluarga Bapak Soejono. Untuk adik-adikku, Sely, Helin, Wim dan Yoan, terima kasih telah memberikan dukungan dan doa bagi saya selama ini. Buat Adik-adik iparku Siam dan Helmy, terima kasih telah manjadi anggota keluarga besar kami, keluarga Bapa Agus Anton. Buat ponakan-ponakanku, Sandro,Tiara dan Adith, terima kasih telah senyum dan tertawa bahagia bersama Om Fani.

Tahun 2010 adalah tahun yang penuh kenangan. Selamat memasuki tahun 2011, semoga berkat dan kasih Tuhan selalu menyertai kita semua.

31 Desember 2010, pkl.22.30
Perumahan Alam Asri Media, Pesanggrahan, Bintaro, Jakarta,